Hari ini, ketika saya sekali lagi melalui jalur yang sama di pinggir kanal, sesuatu terasa berbeda. Di masa lalu, kanal ini dihiasi dengan koloni eceng gondok yang mengapung dengan anggun di permukaan air. Namun sepanjang perjalanan saya, saya merasa sesuatu telah berubah. Koloni eceng gondok yang biasanya menghiasi kanal ini seperti lukisan alam semesta telah menghilang.
Saya mengamati dengan hati yang terasa berat, mencari-cari tanda-tanda eceng gondok yang biasanya melingkupi kanal ini. Namun, yang saya temukan hanyalah beberapa daun eceng gondok yang tersisa. Mereka mengambang dengan anggun, seakan-akan mengirimkan pesan kepada saya. Daun-daun itu, seolah tersenyum dan berteriak, menyampaikan pesan yang dalam dan menyentuh hati saya: "Inilah realita kehidupan."
Tidak ada yang abadi dalam hidup ini, seperti yang telah saya pelajari dari kehadiran eceng gondok. Seperti tumbuhan ini, kita juga mengalami perubahan dan pergantian dalam hidup kita. Semua hal yang kita anggap sebagai pemandangan tetap dalam hidup kita, suatu hari dapat menghilang.
Pesan yang disampaikan oleh eceng gondok adalah pengingat yang kuat tentang ketidakpastian hidup. Dalam kehidupan, kita seringkali melekat pada hal-hal yang kita anggap sebagai milik kita selamanya, tetapi kenyataannya adalah bahwa semua hal bisa berubah. Ini mengajarkan kita untuk menghargai setiap momen yang kita miliki sekarang.
Namun, saya juga menyadari bahwa seperti daun-daun eceng gondok yang tersisa, ada keindahan yang dapat ditemukan dalam perubahan. Kehilangan eceng gondok mungkin membuat kanal terlihat lebih terbuka dan mengundang matahari untuk bersinar lebih cerah. Demikian pula dalam hidup, ketika kita melepaskan sesuatu yang telah berlalu, kita memberi ruang untuk hal-hal baru yang mungkin lebih indah.






0 komentar:
Posting Komentar